Kamis, 19 November 2015

Talkshow di Radio



 

Seorang teman bercerita tentang pengalamannya talkshow di sebuah radio di Jogjakarta belum lama ini. “mBak, kok aku kemarin nggak diajak ngobrol dulu sama penyiarnya ya ?” tanya teman saya. Sebelumnya teman saya itu sudah sempat beberapa kali siaran di beberapa radio lain di Jogja. Dari pengalamannya di beberapa radio, sebelum talkshow dimulai, maka penyiar akan mengajak ngobrol dulu dengan narasumber. Minimal bertanya nama, posisi di lembaga, juga poin-poin yang akan dibahas dalam obrolan.

Ternyata hal yang sama juga saya alami minggu ini. Saat diminta salah satu lembaga untuk menjadi narasumber talkshow di radio yang memang format stasiunnya adalah radio berita, saya yang datang 20 menit sebelum acara dimulai hanya disapa “hai”, diajak bersalaman dan ditanya nama. Sempat sih saya ditanya tentang materi yang akan dibahas hari itu. Hehehe … saya pun membatin, waah, penyiar ini hebat ya, sudah mau siaran baru nanya-nanya topiknya apa.  

Hanya sebentar saya diajak ngobrol, sang penyiar berlalu entah kemana. Sampai akhirnya narasumber yang satu (narasumbernya dipanel 2 orang) datang, si penyiar belum muncul juga. Jam sudah menunjukkan angka 11.58. WIB.Padahal talkshow dimulai pukul 12.00 WIB Tidak ada orang yang mempersilahkan kami masuk, demikian juga si penyiar. Dengan pertimbangan takut nanti terburu-buru, kami pun nekad membuka pintu kaca dan masuk ke studio siaran.

Saya jadi teringat tentang mengemas sebuah talkshow di radio. Seingat saya, idealnya sebuah talkshow itu bukan program dadakan. Tapi memang sudah dijadwalkan dan sudah dipersiapkan. Terlebih jika talkshow tersebut adalah talkshow yang telah ‘dibeli’ oleh entah itu sponsor maupun suatu lembaga. Tim di radio (bisa Program Director, Programmer maupun penyiar) bisa menyusun rencana tentang materi maupun topik talkshow. Meski bisa jadi, dalan kondisi tertentu, misalnya saat sedang ada topik yang hangat, sangat penting maupun darurat bisa jadi topik yang telah direncanakan mengalami perubahan.

  • Selanjutnya, programmer akan menyusun question route (daftar pertanyaan) berdasarkan topik pada tiap-tiap edisi. Di beberapa radio tahapan ini seringkali diabaikan. Penyiar kadang hanya diberitahu pada shift tugasnya adakan ada talkshow bersama produk tertentu atau lembaga tertentu. Padahal, jika topik itu sudah diketahui sejak beberapa hari sebelum hari H talkshow, maka topik tersebut bisa segera disampaikan pada penyiar. Selanjutnya penyiar yang dalam tugasnya dituntut tahu tentang banyak hal, akan mencari referensi terkait topik tersebut. Misalnya topiknya tentang Penanggulangan HIV dan AIDS di DIY. Maka sebaiknya penyiar mencari informasi yang lengkap tentang HIV dan AIDS, tentang Perda Penanggulangan HIV dan AIDS, perkembangan kasus dan sebagainya. Jangan sampai sebagai penyiar justru tidak memahami tentang HIV dan AIDS dan malah menyampaikan informasi yang tidak tepat seperti mitos yang masih beredar di masyarakat yang akhirnya malah meneguhkan stigma dan diskriminasi khususnya pada pengidap HIV.
  • Daftar pertanyaan ini akan berguna jika narasumber menanyakan, kira-kira apa saja pertanyaan yang akan diajukan oleh host dan mempersiapkan jawabannya. Pada narasumber yang belum memiliki jam terbang cukup untuk berbicara di depan umum maupun berbicara di media, maka sangat penting mengetahui daftar pernyataan yang akan diajukan. Jika tidak, bisa jadi karena gugup atau hal lain, maka narasumber akan kebingungan dan tidak lancar dalam memberikan jawaban.  

  • Persiapan lain sebelum talkshow adalah melakukan konfirmasi tentang kepastian kehadiran narasumber. Tidak ada salahnya jika bisa menghubungi narasumbernya langsung untuk meminta kehadiran paling lambat 15 menit sebelum acara dimulai. Tanyakan juga apakah narasumber sudah tahu alamat studio radionya. Kalau sampai narasumber terlambat gara-gara tidak tahu lokasi radio, bisa-bisa talkshow terlambat dimulai hanya karena hal sepele.
  • Meski tidak harus disambut dengan luar biasa, kehadiran narasumber juga perlu disapa. Entah oleh petugas front office maupun penyiar. Penyiar sangat disarankan untuk menyapa narasumber. Ini penting, apalagi jika penyiar belum mengenal narasumber. Tidak ada salahnya narasumber diminta menulis nama dan lembaga yang diwakili lengkap dengan kapasitas atau jabatannya. Hal ini untuk menghindari kesalahan penyebutan nama atau lembaga dan jabatan saat sudah mengudara.

  • Obrolan ringan dengan narasumber juga bisa menjadi ice breaking, agar hubungan antara penyiar dan narasumber lebih cair, dan lebih akrab. Sehingga talkshow dapat berlangsung dengan hangat dan tidak terkesan kaku. Bagi narasumber yang baru pertama kali siaran, tahapan ini menjadi penting. Karena biasanya, pengalaman pertama siaran itu menjadi hal yang cukup membuat gugup maupun deg-degan.

  • Menjelang acara dimulai, narasumber bisa dipersilahkan masuk. Ibarat panggung, narasumber juga perlu mengenal “panggung” siaran. Dimana microphone, headphone, seberapa jauh jarak tempat duduk dengan microphone agar tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat. Pastikan pihak radio, entah itu teknisi maupun penyiar mendampingi narasumber sejanak pada tahap ini. Kalau ada yang perlu dijelaskan terkait masalah teknis, bisa dijelaskan terlebih dulu, bukan saat talkshow tengah berlangsung.

  • Saat talkshow sudah berjalan, penyiar sebaiknya juga mengambil peran sebagai “pengatur lalulintas”. Tentu bukan lalulintas di jalan raya, melainkan lalu lintas pembicaraan dari narasumber satu dan lainnya. Berikan porsi yang berimbang bagi tiap narasumber. Jangan sampai talkshow didominasi oleh salah satu narasumber saja.

  • Menjelang akhir talkhow, penyiar tidak perlu menyampaikan kesimpulan. Biarkan pendengar menyimpulkan sendiri. Kalaupun dirasa perlu, biarkan narasumber saja yang menyampaikan. Kalau penyiar yang menyimpulkan dan ternyata kesimpulannya tidak tepat, bisa-bisa dibantah oleh narasumber dan talkshow  justru berakhir dengan debat yang seharusnya tidak perlu.
  • Setelah selesai talkshow, ucapan terimakasih juga perlu disampaikan. Terlepas narasumber menjawab dengan lancar atau tidak, terlepas dari suaranya enak didengar ataupun cempreng. Jadi, narasumber tidak merasa seperti tamu yang “datang tak diundang, pulang tak diantar”. Melainkan dia akan merasa nyaman dan diterima kehadirannya di radio tersebut.

Naahhh …. Itu adalah hal-hal yang ideal untuk menjalankan sebuah talkshow di radio. Tapi entah kenapa saya pun merasa ada yang janggal saat siaran kemarin. Tapi sudahlah …. Sudah terjadi. Mungkin mereka lupa, hehe.

Oh ya, ada yang kelupaan dikit nih tentang menjadi host dalam sebuah talkshow. Ada beberapa pantangan yang mesti diperhatikan lho. Bukan pantang makanan sih, tapi pantang dilakukan. Diantaranya  yaitu :

  • Ajukan pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka ini memberi kesempatan narasumber untuk berbicara atau menjawab dengan panjang. Kalau pertanyaan tertutup, maka narasumber hanya akan menjawab sangat singkat. Misal ya, tidak, setuju, tidak setuju, dan sebagainya.
  • Saat narasumber memberikan penjelasan atau bicara, tidak perlu menanggapi dengan “mmm, ooo, ya,dst”. Jika itu dilakukan maka akan mengganggu kenyamanan pendengar dalam menyimak talkshow. Untuk menunjukkan perhatian pada pembicaraan atau penjelasan narasumber, penyiar bisa saja mengangguk atau manggut-manggut maupun menggelengkan kepala.

Nahhhhh itu saja sih yang saya ingat tentang mengemas talkshow radio. Kalau ada waktu mencari lagi referensinya mudah-mudahan saya bisa mengedit tulisan ini. Kalau yang saya tulis sih sebatas kemampuan mengingat saya yang makin hari makin pelupa ini. Hehe ….. semoga bermanfaat.

 


Jumat, 23 Oktober 2015

Legomoro


Legomoro, nama sebuah makanan tradisional yang sangat mirip dengan lemper. Ya, bahan dan proses memasaknya sama persis dengan lemper. Namun yang membedakan adalah kemasan atau bungkusnya. Sama-sama dibungkus daun pisang, namun lemper biasa dikemas dengan langsing dan disemat dengan lidi.
Sedangkan legomoro, dibungkus dengan daun pisang, namun tidak disemat dengan lidi melainkan dengan tali dari bambu. Tiap biji legomoro, diikat dengan tiga helai tali bambu. Tak heran, banyak orang menganggap legomoro lebih rumit dibandingkan lemper. Padahal, saya justru lebih lancar membungkus legomoro ketimbang lemper.
Konon (kata alm. ibu saya sih), legomoro yang berasal dari bahasa Jawa yakni lego (lega) dan moro (datang) itu memiliki makna kadatangan yang membawa kelegaan hati, atau bisa juga datang dengan hati yang lega. 
Dulu, legomoro tidak dijual bebas di pasar-pasar. Legomoro hanya dibuat saat orang menggelar hajatan atau saat-saat tertentu saja. Misalnya pernikahan. Dengan menyuguhkan legomoro pada para tamu, mengandung makna bahwa si empunya hajat (tuan rumah) hatinya lega atau senang karena anaknya akan segera menikah.
Ada kalanya legomoro dibuat sebagai salah satu unsur jajan pasar dalam prosesi seserahan pernikahan dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Maknanya sama, kedatangan keluarga mempelai pria adalah dengan kelegaan dan keikhlasan hati.
Namun legomoro tak hanya dibuat saat ada yang menggelar hajat saja. Ketika lebaran, saat orang masih dengan tradisi sungkeman dari rumah ke rumah, salah satu hidangan yang sering ibu saya sajikan adalah legomoro. Harapannya, orang yang berkunjung ke rumah, hatinya bisa menjadi lega ketika telah sungkeman untuk saling maaf memaafkan.
Di daerah lain, di Wonosobo dan Temanggung Jawa Tengah, legomoro tetap disebut lemper. Tapi ada juga daerah yang menyebutnya legondo. 
Saat ini, legomoro bisa dijumpai di pasar-pasar. Salah satunya adalah Pasar Kotagede. Meski rasanya mungkin tak selezat kalau membuat sendiri, namun cukup bisa menjawab keingintahuan orang tentang legomoro. Kunci kelezatan legomoro adalah pemilihan bahan yang bagus (ketan, daging sapi dan santan kental) serta proses pemasakan yang benar-benar tanak (matang). Jika prosesnya benar, legomoro ini bisa bertahan hingga dua hari.

Senin, 22 Juli 2013

Menulis Kembali


Sekian lama tidak pernah menulis, ternyata menumpulkan banyak hal. Kemampuan merangkai kata seolah air yang menguap. Hmmmm mencoba lagi mengais kepingan-kepingan kemauan untuk menulis. Semoga.... tidak hanya hari ini dan kali ini saja.